Dorong Integrasi Data Desa, DPMD Kukar Wujudkan Posyandu Naik Kelas

img

(Kegiatan Posyandu di Kelurahan Bukit Biru/pic:Tanty)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR:  Posyandu bukan lagi sekadar tempat timbang bayi dan imunisasi. Di Kutai Kartanegara (Kukar), lembaga ini kini naik kelas menjadi garda depan pembangunan desa. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMD) Kukar tengah memperkuat peran posyandu sebagai pusat data sosial dan kesehatan yang terintegrasi, bekerja sama dengan PKK, RT, dan berbagai lembaga desa lainnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Data dari posyandu dinilai sebagai fondasi penting untuk menyusun kebijakan yang akurat dan berpihak pada masyarakat. Kepala Dinas DPMD Kukar, Arianto, menjelaskan bahwa sinergi antarlembaga desa ini menjadi strategi kunci dalam mewujudkan perencanaan pembangunan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

“Posyandu memiliki peran strategis dalam mendukung banyak target pembangunan, mulai dari penurunan angka stunting, peningkatan gizi masyarakat, hingga perlindungan sosial,” ujarnya Selasa (04/11/2025).

Menurutnya, posyandu bukan hanya layanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga sumber informasi berharga yang menggambarkan kondisi riil masyarakat desa.

Lebih lanjut ia menegaskan pemerintah daerah pun berkomitmen memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan kapasitas posyandu.

“Posyandu akan kita dorong menjadi lembaga yang lebih berdaya, karena fungsinya kini sejalan dengan arah pembangunan nasional,” tutur Arianto.

Ia menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat desa akan menjadi faktor penentu keberhasilan program ini.

Dikatakannya salah satu langkah konkret yang tengah digarap DPMD Kukar adalah integrasi data antara posyandu dengan lembaga masyarakat seperti RT dan PKK. Dengan sistem data yang lebih terhubung, pemerintah dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan warga.

“Data yang akurat adalah kunci kebijakan yang tepat. Kalau peta sosialnya jelas, intervensinya pasti lebih efektif,” tegas Arianto.

Tak hanya soal teknologi dan sistem informasi, Arianto menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga validitas data. Kolaborasi aktif antara pemerintah dan warga dianggap mutlak agar hasil pembangunan benar-benar dirasakan di lapangan.

“Kita tidak ingin program bagus di atas kertas, tapi tidak menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, keterlibatan warga menjadi kunci,” katanya.

Namun, upaya memperkuat posyandu dan sistem data desa ini juga menghadapi tantangan baru. Arianto mengungkapkan adanya keterbatasan fiskal akibat berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat. Kondisi itu memaksa semua pihak berpikir kreatif dan berinovasi dalam mengelola sumber daya pembangunan.

“Tahun depan situasinya mungkin tidak mudah. Tapi selama niat kita tulus, hasilnya akan membawa manfaat,” tuturnya.

Ia berharap, penguatan peran posyandu yang disertai kerja sama lintas sektor mampu menciptakan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. Dari pelayanan kesehatan yang lebih baik hingga peningkatan gizi keluarga, semua bermuara pada satu tujuan masyarakat desa yang sehat, produktif, dan sejahtera.

“Ketika masyarakat hidup sehat dan bahagia, itulah tanda keberhasilan pembangunan desa. Posyandu adalah jantung dari gerakan itu  sederhana tapi sangat vital untuk masa depan Kukar yang lebih baik,” pungkas Arianto. (Adv/Tan)